Telinga Anak Juga Perlu Dicek, Jangan Tunggu Mereka Mengeluh!
10 July 2025
Pernahkah Anda memperhatikan anak yang tampak acuh saat dipanggil, atau sering menaikkan volume televisi padahal suara sudah cukup keras? Mungkin kita cepat menilai mereka sedang tidak fokus atau sekadar cuek. Tapi bisa jadi, itu adalah tanda-tanda awal gangguan pendengaran.
Sebagai orang tua, kita sering kali fokus pada tumbuh kembang fisik dan akademik anak, namun kadang kita lupa bahwa indera pendengaran juga sangat krusial. Padahal, telinga adalah gerbang utama untuk perkembangan bicara, bahasa, hingga kemampuan bersosialisasi.
Apa Saja Gangguan Telinga yang Sering Terjadi pada Anak?
Telinga anak rentan mengalami gangguan, dan beberapa di antaranya bisa muncul tanpa gejala yang jelas. Yang paling sering adalah infeksi telinga tengah, atau yang dikenal dengan istilah Otitis Media.
Ada dua jenis yang umum terjadi:
- Otitis Media Akut (OMA) – infeksi telinga tengah yang datang tiba-tiba, biasanya disertai demam dan nyeri hebat di telinga.
- Otitis Media dengan Efusi (OME) – cairan menumpuk di balik gendang telinga, tanpa infeksi aktif. Anak sering kali tidak merasa sakit, tetapi pendengarannya terganggu.
Jika tidak tertangani, OME bisa berkembang menjadi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK), infeksi telinga menahun yang menyebabkan cairan keluar terus-menerus dari telinga dan bisa merusak pendengaran secara permanen.
Selain infeksi, anak-anak kini juga berisiko mengalami tuli akibat penggunaan headset. Ya, teknologi memang membantu, tapi penggunaan headset terlalu lama atau dengan volume tinggi bisa melukai sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam, dan kerusakannya tidak bisa diperbaiki.
Jangan lupakan juga soal serumen prop, atau sumbatan kotoran telinga. Meskipun terdengar sepele, tumpukan kotoran yang menutup saluran telinga bisa menyebabkan penurunan pendengaran, rasa penuh, bahkan infeksi jika tidak dibersihkan dengan tepat.
Apa Tanda-Tandanya?
Gangguan pendengaran pada anak bisa sulit dikenali karena mereka belum mampu menyampaikan keluhannya secara jelas. Beberapa hal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Anak sering meminta pengulangan saat diajak bicara.
- Merespons lambat atau tampak tidak mendengar saat dipanggil.
- Sering menyalakan TV dengan volume sangat keras.
- Mengalami keterlambatan bicara atau kemampuan berbahasa.
- Keluar cairan dari telinga.
- Mengeluh telinga terasa penuh atau berdenging.
Jika Anda melihat satu atau lebih dari gejala ini, jangan anggap sepele.
Apa Penyebabnya?
Banyak faktor yang bisa memicu gangguan telinga pada anak, mulai dari infeksi saluran pernapasan atas, alergi, hingga kebiasaan buruk seperti membersihkan telinga dengan cotton bud. Untuk tuli akibat suara bising, penyebab utamanya adalah paparan suara keras dalam waktu lama, terutama lewat headset atau earphone.
Anak-anak juga memiliki saluran eustachius yang lebih pendek dan horizontal, sehingga lebih mudah tertutup atau terinfeksi setelah pilek atau flu.
Apa yang Bisa Dilakukan di Rumah?
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan telinga anak:
- Cegah infeksi dengan memberikan imunisasi lengkap, seperti vaksin influenza dan pneumokokus.
- Bersihkan telinga dengan aman, cukup lap bagian luar dengan kain bersih. Hindari memasukkan cotton bud ke dalam telinga.
- Batasi penggunaan headset. Atur volume maksimal 60% dan durasi kurang dari satu jam per hari.
- Perhatikan gejala-gejala kecil, seperti gangguan bicara atau perubahan perilaku.
- Pastikan rumah bebas asap rokok, karena ini terbukti meningkatkan risiko infeksi telinga tengah.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan tunggu anak mengeluh kesakitan. Segeralah ke dokter jika:
- Anak mengalami nyeri telinga, demam, atau keluar cairan dari telinga.
- Pendengarannya menurun, terlihat bingung saat diajak bicara, atau mulai tertinggal dalam kemampuan berkomunikasi.
- Ada keluhan telinga berdenging atau terasa penuh terus-menerus.
- Terjadi gangguan keseimbangan atau anak tampak sering sempoyongan.
Pemeriksaan telinga sangat sederhana dan tidak menakutkan bagi anak. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah komplikasi jangka panjang, termasuk gangguan belajar dan sosial akibat masalah pendengaran yang tak tertangani.
Sumber
- Lieberthal AS, et al. The diagnosis and management of acute otitis media. Pediatrics. 2013;131(3):e964–e999.
- Wankhar W, et al. Knowledge, attitude, and practice regarding earphone use and its effect on hearing among college students. Int J Community Med Public Health. 2020;7(3):982-987.
- Le TN, Straatman LV, Lea J, Westerberg B. Current insights in noise-induced hearing loss: a literature review of the underlying mechanism, pathophysiology, asymmetry, and management options. J Otolaryngol Head Neck Surg. 2017;46(1):41.
- Acuin J. Chronic suppurative otitis media: burden of illness and management options. WHO. Geneva; 2004.
- Ahmed S, Shapiro NL. Otitis media in children: update 2020. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2020;28(6):447-452.
- Vincent AG, Rogers DJ, Javia L. Audiology, otology, and airway. In: Swanson JW, editor. Global cleft care in low-resource settings. Cham: Springer; 2021.
